9, 10 Muharram – Mengenang Wafatnya Imam Husain a.s. cucu nabi, kakek...

9, 10 Muharram – Mengenang Wafatnya Imam Husain a.s. cucu nabi, kakek wali2 kita di Indonesia

2,425 views
1
SHARE

Tanggal 9 dan 10 Muharram.
Imam Husain adalah cucu nabi Muhammad s.a.w dan kakek dari para sunan di Indonesia, dan kemungkinan juga di negara2 lain-nya.
(perlu diperhatikan disini, bukan hanya karena keturunan-nya yg dijadikan patokan, akan tetapi perilaku dan sikapnya)

Berikut kilasan artikel tradisi di Indonesia di tgl 9 dan 10 Muharram:
Di Jawa misalnya, kita mengenal jenis penganan bernama Bubur Suro. Di Aceh ada Kanji atau Bubur Asyura. Di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatra Barat, ada upacara Hoyak Tabuik (Tabut) atau dikenal juga dengan upacara Hoyak Husain. Bahkan masyarakat Jawa dan juga masyarakat lainnya menyebut bulan Muharram dengan sebutan bulan Suro. Para ahli bahasa sepakat bahwa istilah ini berasal dari kata Asyura yang berarti hari kesepuluh bulan Muharram, yaitu hari terjadinya pembantaian terhadap Imam Husain.

Bubur Suro di Jawa atau Kanji Asyura di Aceh yang dibuat dalam dua warna, merah dan putih, mempunyai makna darah dan kesucian. Merah melambangkan darah Imam Husain dan keluarganya yang tumpah di Karbala. Merah juga melambangkan keberanian pasukan Karbala melawan penguasa zalim. Sementara putih melambangkan kesucian diri dan perjuangan Imam Husain melawan kezaliman. Biasanya Bubur Suro atau Kanji Asyura ini diberikan kepada sanak keluarga, kerabat, fakir miskin, terutama anak-anak, atau bahkan dibawa ke masjid dan balai desa untuk disantap bersama sebagai lambang kasih sayang kepada keluarga Imam Husain yang menderita karena ditinggal pengayom-pengayom mereka.

Upacara Hoyak Tabuik atau mengarak tabut hingga kini dilaksanakan masyarakat. Padang Pariaman di Sumatra Barat dan masyarakat Bengkulu. Upacara mengarak tabut atau keranda itu adalah perlambang dari keranda jenazah Imam Husain yang gugur di Padang Karbala. Upacara tersebut dimulai dari hari pertama Muharram hingga hari kesepuluh, di berbagai negara. Ada keyakinan cukup kuat pada sebagian masyarakat Padang Pariaman dan Bengkulu bahwa jika mereka tidak melakukan ritual ini, mereka akan mendapat bencana.

Hoyak Tabuik dimulai dari tanggal 1 Muharram, yaitu dengan mengambil lumpur dari sungai di tengah malam. Para pengambil lumpur harus berpakaian putih. Lumpur dikumpulkan ke dalam periuk yang ditutup kain putih, kemudian dibawa ke sebuah tempat yang disebut Daraga, sebuah tempat berukuran 3×3 meter. Daraga juga ditutup kain putih. Pengambilan lumpur melambangkan pengumpulan bagian-bagian tubuh Imam Husain yang terpotong. Daraga melambangkan makam suci Imam Husain, sedangkan kain putih adalah perlambang kesucian Imam Husain.

Pada tanggal 7 Muharram, persis di tengah hari, ada upacara mengarak panja atau imitasi potongan jari-jari Imam Husain yang sudah dibuat sebelumnya. Panja ke jalan-jalan dalam sebuah belanga bersama dengan Daraga. Pada hari kesembilan Muharram, serban atau penutup kepala wama putih yang melambangkan serban Imam Husain diarak ke jalan-jalan untuk menunjukkan betapa hebatnya Imam Husain dalam membela Islam.

Pada tanggal 10 Muharram, ritual Tabuik mencapai puncaknya. Di pagi hari, Tabut yang sudah dipersiapkan sebelumnya, Daraga, Panja dan serban diarak keliling kota dalam suatu pawai besar yang disaksikan oleh ribuan bahkan puluhan ribu penonton yang datang dari berbagai penjuru. Orang-orang pun berkabung dan berteriak: Hoyak Tabuik dan Hoyak Husain. Sore hari menjelang matahari terbenam saat arak-arakan selesai, semua benda-benda di atas diarak ke laut kemudian dibuang di tengah laut, lalu mereka pulang sambil melantunkan kata-kata seperti, ya Ali dan ya Husain.

Pasca kekuasaan Raffles, yang berkuasa di Indonesia adalah penjajah Belanda. Dicapailah kesepakatan antara pemerintah Inggris dan Belanda, yang salah satunya keharusan tentara Inggris angkat kaki dari Bengkulu. Saat itu, Sipahi diberi kebebasan untuk memilih jalan sendiri-sendiri. Sebagian di antara mereka terdampar ke Pariaman. Hal ini bisa dimaklumi, karena pada waktu itu pesisir barat Sumatera merupakan jalur pelayaran-perniagaan yang menggiurkan dan ramai dikunjungi para pedagang, dalam maupun luar negeri.

Yang pasti, berabad-abad lamanya, kaum muslimin Indonesia mempraktekkan tradisi membuat penganan dan mengarak tabut tersebut, tanpa menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah bentuk lain dari peringatan Asyura, tragedi paling dahsyat dalam sejarah manusia, yaitu tragedi Karbala.

http://swaramuslim.net/

asyura

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.